Mungkin orang masih bertanya-tanya,”bener gak putrid duyung itu ada???”
Menurut legenda turun temurun, puteri duyung atau marmaid adalah makhluk yang hidup di air, yang memiliki badan dan kepala perempuan dengan ekor menyerupai ikan. Biasanya puteri duyung hidup di dasar laut. Sebagian besar legenda menyebutkan kalau dulunya puteri duyung adalah manusia. Tidak diketahui pasti apakah legenda soal duyung berasal dari kisah nyata atau bukan.
Berdasarkan telaah ilmiah di beberapa perairan, duyung sering dikisahkan justru memang dihuni hewan-hewan spesial.
Hewan-hewan ini dikenal sebagai “dugong“, “manatee” dan “sapi laut (sea cow)”. Ketiga spesies ini memiliki bentuk tubuh yang mirip, namun hidup di lingkungan perairan yang berbeda. Tergolong sebagai mamalia yang suka menyusui dan berjemur di batu karang dan tepi-tepi perairan, atau mengeluh dan bersuara lantang.
Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Mampu hidup sampai usia 70 tahun. Bisa ditemukan di perairan dangkal kawasan pantai India, Pasifik Selatan (dari wilayah pantai timur Afrika sampai utara Australia), perairan pantai Papua, dan kepulauan lain di Pasifik.
Manatee. Ada tiga jenis manatee yang sudah dikenal. Ada yang hidup di perairan Karibia dan sepanjang pantai tenggara Amerika Selatan.
Ada yang di sepanjang perairan pantai dan muara sungai Florida (AS), dan jenis ketiga yang hidup di perairan tawar sungai Amazon. Manatee ini ada yang hidup di air tawar dan air asin. Warna manatee kelabu, dengan ukuran panjang tubuh 4 meter.
Sapi Laut (sea cow). Pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada 1741 di dekat Pulau Commander di Laut Bering. Sapi laut biasanya suka hidup di perairan dangkal dekat pantai.
Ukuran tubuhnya bisa sepanjang 7,6 meter dan warnanya kelabu kecokelatan dengan pola polka dot samar.
Ketiga hewan air yang menyusui anaknya ini termasuk dalam kelompok ordo (grup) hewan mamalia air yang disebut sirenia.
Dugong berasal dari bahasa melayu yaitu Duyung. Duyung (Dugong dugon) adalah salah satu jenis mamalia laut herbivora yang unik. Seperti halnya mamalia lain, duyung mempunyai suhu tubuh yang tetap, bernafas dengan paru-paru dan memberi makan anaknya induk betina dengan cara menyusui. BENTUK DUYUNG, Duyung memiliki badan yang cukup besar menyerupai kapal selam dengan panjang badan Duyung dewasa sekitar 2,5 - 3 meter dengan berat 225-450 kg. Panjang bayi Duyung yang baru dilahirkan sekitar 1 - 1,3 meter dengan berat 20 - 35 kg. Duyung berwarna abu-abu kebiruan dengan kulit yang tebal sekitar satu inchi atau keras dan licin. Rambut pada badannya lebih pendek dan sedikit dibandingkan dengan rambut yang terdapat disekitar mulutnya
Duyung memiliki ekor mirip sirip ekor ikan pasu, tidak memiliki paruh seperti ikan lumba-lumba, serta memiliki bentuk kepala yang unik. Bentuk paruh yang bundar dan posisi mulutnya membuat Dugong mudah untuk mancari makan dengan cara menyapu permukaan laut. Dugong memiliki mata dan kuping yang kecil yang juga berarti Dugong kurang memiliki pendengaran dan penglihatan yang tajam.
HABITAT DUYUNG, Duyung hidup dan berkembang biak di perairan laut yang dangkal dan tenang yang banyak ditumbuhi oleh lamun. Duyung banyak mengkonsumsi lamun ini, tanaman laut seperti rumput yang tumbuh di dasar berpasir di laut dangkal dan hangat. Duyung juga gemar berkelompok antara 5 - 10 ekor yang terdiri dari induk jantan, betina dan anaknya; atau bergerombol terutama diwaktu musim kawin. Tetapi ada kalanya Duyung suka menyendiri. Duyung memiliki sifat monogamy dan berkembang biak sangat lambat. Biasanya beranak setiap 2 tahun sekali dimana setiap kali beranak hanya 1 ekor dan jarang kembar dua.
Biasanya Duyung banyak dijumpai di daerah perairan laut sampai pada kedalaman sekitar 20 meter. Populasinya saat ini sudah mengalami penurunan. Jumlah populasi Duyung di Indonesia diperkirakan 10.000 ekor pada tahun 1970-an dan terus menurun secara drastis menjadi sekitar 1.000 ekor pada tahun 1994. Diperkirakan di beberapa negara Duyung ini sudah banyak tidak ditemukan lagi yang diakibatkan oleh perburuan yang berlebihan oleh manusia untuk memperoleh daging, 2 pasang taringnya dan bagian-bagian lainnya, disamping gangguan habitat seperti pencemaran laut maupun adanya pengembangan usaha di pesisir dan daearah litoral dimana sumber makanan duyung berada. Sementara perkembangbiakannya sangat lambat dengan jumlah kelahiran anak yang terbatas.
(Telukpalu.Com)
Apa sih perbedaan putri duyung dan ikan duyung??? Telah dikatakan diatas bahwa Ikan duyung adalah jenis satwa air yang bernafas dengan paru paru, dan bentuknya mirip dengan lumba-lumba. Dengan kemampuan seperti itu, maka bisa di artikan bahwa ikan duyung mampu bertahan berlama-lama di atas daratan tak ber air. Satu hal yg sangat menarik, apabila sang ikan duyung berada terlalu lama di daratan tanpa air, dari dua matanya akan mengalir sejenis cairan. Maka sepintas dia nampak seperti sedang menangis. Orang-orang sekitar yang mengetahui hal tersebut akan langsung menampung cairan itu dengan wadah. Dikarenakan terdapat kepercayaan di kalangan nelayan yg menganggap bahwa air mata duyung memiliki kekuatan ghaib, yg bisa di pergunakan utk berberbagai keperluan. (cegah satwa punah.com)
Sedangkan puteri duyung adalah legenda tentang makhluk air yang memiliki kepala dan tubuh layaknya seorang perempuan dan ekor menyerupai ikan. putri duyung hidup di dasar laut dan dikatakan merupakan seorang puteri yang telah disumpah sebagian anggotanya daripada paras pinggang hingga ke kaki menjadi ikan.
Puteri duyung merupakan makhluk legendaris yang ceritanya sudah beredar berabad-abad yang lalu. Mereka termasuk salah satu makhluk legendaris separuh manusia separuh hewan.
Namun ada sebuah buku bertahun 1718 yang terbit di Amsterdam Belanda, yang mengupas soal kehidupan aneka satwa di Samudera Hindia. Buku ini dilengkapi artikel deskripsi, aneka sketsa dan gambar. Dalam buku ini ada satu catatan detail soal duyung:
“Ada monster berwujud wanita setengah ikan, tertangkap di perairan Amboyna (gugus kepulauan Maluku, Indonesia).
Berdasarkan pengukuran memiliki tubuh sepanjang 59 inci (147,5 cm), bentuknya mirip belut laut (moa). Makhluk ini hanya bertahan hidup selama 103 jam (4,5 hari) setelah ditangkap, dan mati di akuarium. Selama pengurungan diberi makan ikan-ikan kecil dan hasil laut lainnya, namun ia tidak merespons makanan tersebut.”
(Forum Aceh Comunity)
Marmaid dalam berbagai negara
Dalam berbagai budaya di dunia mermaid digambarkan secara sama, tanpa busana, bagian tubuh atas merupakan manusia serta yang bawah berbentuk ekor ikan. Asal kata mermaid sendiri berasal dari kata dalam bahasa Inggris kuno, -mer- berarti laut dan -maid- berarti pelayan wanita atau gadis. Selain sebutan mermaid juga mengenal sebutan untuk jenis prianya, yakni -merman-. Kata mermaid bersifat universal.
Beberapa makhluk legendaris yang karakternya mirip marmaid ditemukan di beberapa negara, seperti: Mami Wata dari Afrika barat dan tengah; Russalki (Rusalka) dari Rusia dan Ukraina; Merrow dari Irlandia dan Skotlandia; Oceanid, Nereid, dan Naiad dari Yunani, ketiganya adalah Nymph air. Dalam dongeng dan cerita rakyat Eropa, ada makhluk yang wujudnya menyerupai puteri duyung disebut Melusine, berwujud wanita dari kepala sampai pinggang, sedangkan berwujud ikan dari pinggang ke bawah, dengan dua ekor yang bercabang atau kadang-kadang seperti ular. Di Jepang, jika manusia memakan daging puteri duyung, maka akan memperoleh keabadian. Dalam beberapa cerita rakyat di Eropa, puteri duyung dapat mengabulkan permohonan.
Orang ketika mendengarkan cerita putrid duyung pasti gak akan percaya, karena putri duyung adanya hanya di dalam dongeng saja. Percaya gak percaya di sini diceritakan ada sejumlah warga kota pesisir di Israel mulai yakin bahwa tokoh dongeng putrid duyung itu benar-benar nyata. Itulah sebabnya pemerintah kota Kiryat Yam pekan lalu menawarkan imbalan US$1 juta (sekitar Rp 10 miliar) bagi orang yang bisa membuktikan bahwa ada putri duyung di laut dekat kota mereka. Sayembara diumumkan setelah beberapa warga mengaku melihat putri duyung di malam hari
Pasalnya, menurut laman kantor berita Jewish Telegraphic Agency, 12 Agustus 2009, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah warga Kiryat mengaku pernah melihat mahluk yang mirip dengan putri duyung - yang menurut dongeng adalah perempuan yang setengah badan ke bawah berbentuk ikan. Mahluk itu, kata mereka, berlompat-lompat di air layaknya ikan lumba-lumba sebelum akhirnya menghilang di bawah laut. Gara-gara laporan itu, makin banyak orang yang mampir ke pantai pada malam hari. Menurut laporan saksi, mahluk itu biasanya muncul setelah matahari terbenam.Penasaran dengan laporan dari para warga, pemerintah Kiryat Yam akhirnya menggelar sayembara dengan menawarkan uang banyak bila ada yang bisa membuktikan kebenaran cerita itu. Akibatnya, banyak warga membawa kamera dan siap mengabadikan momen langka itu. Namun, sampai kini, belum ada laporan bila ada yang melihat dan berhasil mengambil gambar putri duyung. (VIVAnews)
Terdapat kisah lain yang berasal dari kepercayaan Shinto di Kota Fujinomiya dekat kaki Gunung Fuji, Jepang. Legenda mengenai duyung ini muncul pada masa Putra Mahkota Jepang Shotoku (Shotoku Taishi) di tahun 574-622 Masehi. Saat itu Shotoku berjalan melintas tepian Danau Biwa. Saat ia menyepi tiba-tiba muncul sesosok monster dari dalam danau yang berseru pada Shotoku bahwa ia adalah seorang nelayan yang dikutuk menjadi monster duyung bertubuh setengah orang setengah ikan, karena perbuatan di masa lalunya yang sering membunuh hewan untuk disantap.
Ia mengaku baru memahami kekeliruannya dan berharap agar ia menjadi peringatan bagi seluruh manusia agar tidak melakukan pembunuhan terhadap satwa. Pesan ini disampikan untuk dunia di masa depan. Karena itu monster tersebut minta agar ia (setelah mati nanti) dikeringkan dan ditempatkan disebuah kuil sebagai peringatan bagi umat manusia.
Setelah menyampaikan pesan-pesan itu monster duyung itu kemudian meninggal. Shotoku kemudian merenungkan ucapannya itu dan mengeringkan duyung tersebut menjadi mummi. Sesuai permintaan sang duyung, putra mahkota mendirikan sebuah kuil untuk mummi sang duyung.
Selama 1.400 tahun mummi ini berpindah-pindah tangan sampai akhirnya ditempatkan di Kuil Shinto di Fujinomiya hingga kini. Keberadaan mummi ini dihubungkan dengan kepercayaan yang berpantang membunuh satwa alias hidup ala vegetarian. Di salah satu Kuil Shinto di Fujinomiya tersimpan sebuah mummi duyung setinggi 170 cm berusia 1.400 tahun. Ini merupakan salah satu mumi duyung tertua dan terbesar yang kini masih tersimpan di Jepang. Dari bentuknya mummi duyung berpenampilan menyeramkan, berkepala besar, bundar, dan botak, hanya sejumput rambut yang tumbuh di depan kepala sampai ke hidungnya. Mata dan mulutnya tampak terbuka. Ia memiliki sepasang tangan dengan kuku yang tajam (20 cm). Setengah tubuh bagian atas menyerupai manusia dan setengah bagian di bawah menyerupai ekor ikan. Namun, struktur tulangnya tidak diketahui pasti bagaimana bentuknya karena belum pernah diteliti.
Legenda rakyat yang paling terkenal juga berasal dari Yunani. Menceritakan bahwa puteri duyung adalah metamorfosis dari “Thessalonike”, adik Alexander Agung yang berubah menjadi puteri duyung setelah meninggal. Yang membuat merinding adalah karena diyakini dia hidup kembali di laut Aegea, dan selalu menanyakan nasib kakaknya. Dia hanya menanyakan satu hal bila ada pelaut melintas. Ini selalu membuat para pelaut takut setengah mati bila mengarungi laut Aegea. Dia selalu bertanya: “Zi o basiliás Aléxandros?” (Apakah Alexander Agung masih hidup?). Jika mendengar suara seperti itu di laut, maka demi keselamatan sebaiknya dijawab; “Zi k? basileúi!” (Dia masih hidup dan masih berkuasa). Bila tidak menjawab seperti itu, maka ia berangsur-angsur berubah menjadi Gorgon dan mencelakai pelaut yang ada.
BEBERAPA CERITA LAIN MENGENAI PUTRI DUYUNG
Duyung pertama kali muncul dalam mitologi di Assyria (1000 SM). Atargatis, ibu dari ratu Assyria, Semiramis, adalah dewi yang mencintai seorang gembala namun kemudian ia membunuhnya karena cintanya ditolak. Merasa malu ia melompat ke dalam danau dan berubah menjadi ikan. Dalam transformasi menebus malu ia berubah menjadi duyung.
Berbeda dengan Perancis, ini juga memiliki cerita tersendiri tentang mahluk yang bernama mermaid. Kisahnya hampir mirip dengan kisah Malin Kundang Indonesia, hanya saja korbannya wanita dan ia dikutuk memiliki tubuh ikan karena kesenangannya bermain-main dalam air membuat sang ibu marah. Mereka mengenal gadis malang itu dengan sebutan Sirena, katanya, setelah dikutuk akhirnya dia pergi ke laut terbuka, laut pasifik, dan disana banyak orang yang sering melihat kemunculan Sirena, kabarnya lagi Sirena hanya bisa ditangkap dengan jaring yang dibuat dari rambut manusia.
